Kamis, 06 Oktober 2016

10 Bukti Bumi Berbentuk Datar Bukan Bulat






Anda masih yakin bahwa Bumi berbentuk bulat? Cobalah baca buku karya Eric Dubay. Penulis ini mengajukan sejumlah bukti untuk meyakinkan orang jika planet yang kita tinggali ini ternyata datar.
Pemikiran Dubay dituliskan dalam buku “ The Atlantean Conspiracy: 200 Proofs The Earth Is Not A Spinning Ball”. Dalam buku ini pula dia menuding bahwa Bumi bulat merupakan bentuk konspirasi terbesar sepanjang masa.
Menurut dia, NASA dan astronomi modern mempertahankan pendapat bahwa Bulan itu padat dan berbentuk bulat. Pendapat sama juga dipakai untuk mempertahankan teori bahwa manusia hidup dan menjejakkan kaki di atas Bumi yang melayang.
“ Mereka mengklaim Bulan merupakan benda langit yang tak bercahaya dan memantulkan sinar Matahari,” kata Dubay, dikutip Dream dari Metro.co.uk, Kamis 21 Juli 2016.
“ Kenyataannya adalah, bagaimanapun juga, Bulan bukan sesuatu yang padat, ini jelas-jelas sebuah lingkaran,” tambah dia.
Perdebatan soal bentuk Bumi sudah terjadi sejak dulu. Banyak kebudayaan meyakini bahwa Bumi berbentuk datar, seperti budaya Babilonia kuno, India, China, dan Jepang kuno.
Begitu pula dengan periode awal Mesir dan Mesopotamia, yang menggambarkan Bumi sebagai piringan datar yang mengambang di laut. Beberapa filsuf sebelum Socrates juga percaya bahwa Bumi itu datar.
Pada abad ke-6 SM, kembali muncul kosep Bumi yang bulat di beberapa kebudayaan. Di Yunani, pendapat ini dikemukakan oleh Pythagoras.
Lantas, apa saja bukti yang dipakai Dubay untuk mendukung pendapatnya bahwa Bumi berbentuk datar?



 1. Menurut dia, horizon selalu terlihat datar, kecuali gambar-gambar yang dikeluarkan oleh NASA dan pemerintah berbagai negara, yang menurut dia palsu. Inilah yang dia sebut sebagai konspirasi global.

2. Menurut dia, kita tidak pernah melihat ke bawah untuk melihat horizon. Jika Bumi bulat, maka manusia harus menunduk untuk melihat cakrawala.

3. Jika Bumi benar-benar bulat dan meluncur melalui ruang, maka air akan bergoyang-goyang di semua tempat, bukannya diam dan datar.
 
4. Jika Bumi benar-benar bulat, kata dia, aliran sungai, seperti Mississipi, akan berbalik dan tidak akan sampai ke laut.

5. Jika Bumi benar-benar bulat dan berputar, helikopter akan bisa melayang di tempat dan menunggu untuk sampai ke tujuan mereka.

6. Jalur kereta api dari London ke Liverpool memiliki panjang 180 mile. Jika Bumi benar-benar bulat, maka jalur itu memiliki ketinggian 5.400 kaki di atas Birmingham.

7. Jika bumi benar-benar bulat, pilot maskapai harus terus menyesuaikan kontrol mereka agar tidak terbang ke ruang angkasa.

8. Jika benar-benar ada miliaran bintang di langit pada malam hari --kelompok yang menganggap Bumi datar menolak pemikiran ini, maka seluruh langit akan penuh cahaya.

9. Jika Bumi terus-menerus berputar, pesawat tidak akan bisa mencapai tujuan mereka karena melawan angin dengan kecepatan 500 mile perjam atau 804 kilometer perjam.

10. Jika Bumi benar-benar berputar, peluru yang ditembakkan ke atas akan mendarat ratusan kaki di sebelah barat mereka. Tapi, kata Dubay, kenyataannya tidak demikian.

Bagaimana menurut Anda, percaya atau tidak semua kembali pada anda? 

"MERAH PUTIH BENDERAKU"

“Kalian tahu ini hari apa?” tanyaku heboh, teriakanku menggema di seluruh lokal. Semua tetap sibuk dengan urusan masing-masing. Tak ada kicauan burung yang berani mengganggu mereka.
“Hey, ayolah dengarkan,” seruku tetap bersikeras. Gina, sahabat karibku dari kecil menanggapi teriakanku,
“Hari ini hari Rabu, sudahlah tidak perlu pura-pura bodoh. Kau juga tahu,” ujarnya dingin.
“Ah,”
Hari ini, 17 Agustus 2045. Yup, hari ini adalah peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-100 tahun. Sebagai gadis yang mencintai negaranya, aku merayakan hari ini dengan perlombaan kecil di rumahku. Sebagai rasa nasionalisme terhadap Indonesia. Namun, zaman telah berubah entah mengapa aku tak tahu.
Tak ada ikatan persatuan dan kesatuan yang dilakukan oleh pahlawan semasa dulu. Tak ada yang ingat. Ayahku yang lahir di tahun 2000, beliau berkata.
“Saat ayah sekolah dahulu, di sekolah ayah. Pada tanggal 17 Agustus, kita upacara dan berlomba. Semua senang dan gembira. Ada lomba panjat pinang, lompat karung, tarik tambang, masukkan paku. Dan lain-lain, jika kamu mencintai negara kita. Buatlah perayaan kecil, kreatif!” Ah aku senang ayah berkata begitu, karena di sekolah. Tak ada upacara sama sekali bahkan pada hari kemerdekaan, hari lahir pancasila, pendidikan tak ada yang ingat.
“Hmm, Gina seharusnya kau ingat. 17 Agustus, saat pak Soekarno membacakan teks proklamasi. Dulu kata ayah, di sekolah upacara. Tapi, kita tidak. Kita harus membangkitkan rasa nasionalisme Gina!” ucapku kesal. Namun, ucapanku malah membuat Gina naik darah. Ia pergi meninggalkanku sendiri.
“Huft,” namun, aku masih bersemangat. Perayaan yang kulakukan nanti sore, semoga banyak yang datang.
Kringg…
Guruku telah datang, tak ada ucapan selamat pagi atau sapaan yang menyenangkan. Tegas!
“Buka laptop kalian, ketik yang ada di depan! Lalu pelajari semuanya di rumah!” serunya. Memang, di tahun 2045 ini teknologi semakin canggih. Tak ada lagi yang namanya papan tulis atau buku. Maupun pena serta pensil. Semua sudah kuno, aku bahkan tak pernah melihat yang bernama papan tulis. Tapi kata ayah papan tulis bisa dihapus. Huh, entahlah. Guru juga tak pernah menjelaskan sedikitpun. Aku bingung.
Saatnya pulang!!! Sayup-sayup terdengar bunyi dari bibirku. Indonesia Raya, lagu kebangsaan Indonesia yang sudah lama sekali. Ayah yang mengajarkan. Walau sekarang tak ada yang namanya bernyanyi atau yang lainnya aku tetap mengabadikan lagu itu.
Aku mempersiapkan semua yang dibutuhkan saat acara. Lomba tak banyak hanya makan kerupuk, tarik tambang, dan masukkan paku. Mungkin kekuatan menarik mereka tak sekuat orang zaman dahulu. Aku tak mengadakan perlombaan panjat pinang, karena memang pada zaman sekarang jarang yang dapat memanjat. Satu hal lagi, aku mengibarkan bendera. Bendera kebangsaan Indonesia, berwarna merah putih polos yang sangat indah jika dikibarkan. Seni, itu yang kusebut.
Aku dengan mudah mengibarkan bendera itu. Kakakku yang malas akhirnya dengan berat hati menerima pemaksaanku sebagai MC dalam acara. Wajahnya malas dan kesal. Aku menarik napas dalam-dalam. Setelah acara dimulai, aku melihat tabel tamu kedatangan. Hanya 15 orang! Padahal manusia di kotaku banyak sampai 2 juta. Ada apa ini?
Yang datang sebagian besar sepupuku dan sisanya adalah teman saat aku masih kecil. Mereka sama sepertiku mencintai Indonesia. Ditengah acara, aku melihat anak kecil yang kira-kira berusia 5 tahun sedang berusaha menggapai kerupuk. Aku tersenyum, anak kecil namun mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi. Dengan cepat ia menghabiskan kerupuk yang berhasil digapainya. Ia memenangkan perlombaan makan kerupuk.
Aku menghampiri anak kecil itu,
“Dek, adek namanya siapa?” tanyaku lemah lembut mendekatinya.
“Citra kak,” jawabnya polos sambil mengelus perutnya. Sepertinya, ia kenyang.
“Oohh, selamat ya dek menang lomba,”
“Iya kak makasih,”
“Kak itu yang warnanya merah putih apa kak?” Citra melempar pertanyaan yang tak membuatku kaget.
“Itu namanya bendera dek, adek tau itu bendera untuk apa?”
“Enggak kak, Citra enggak tau,”
“Bendera itu untuk mengenang jasa pahlawan kita yang dahulu berperang untuk menyelamatkan Indonesia. Selain itu, juga untuk membangkitkan rasa nasionalisme terhadap Indonesia,”
“Na.. na.. nass… nasi… nasionalisme itu apa kak?” tanya Citra yang agak kesulitan mengeja kata nasionalisme.
“Nasionalisme adalah rasa cinta kita terhadap tanah air,”
“Oh gitu kak, kakak makasih ya. Karena kakak, Citra tau itu bendera dan nasionalisme. Oh ya kak, warna merah dan putih itu apa kak?” lagi-lagi Citra bertanya. Aku tersenyum melihat rasa ingin tahu Citra terhadap Indonesia.
“Merah artinya berani dan putih artinya suci,”
“Oh jadi Indonesia berani dan suci yeeeeyy,” ia bersorak gembira.
Tibanya pengumuman, aku melihat Citra berdiri di panggung memegang piala tinggi yang lebih tinggi darinya. Ia menaruh piala itu. Citra dikalungkan medali yang besar serta mendapat uang 1 juta. Aku mengucapkan selamat kepada 3 besar juara di masing-masing kategori. Serta sedikit berpidato tentang Indonesia. Terutama bendera yang masih kokoh berkibar di halaman rumahku. Aku memberi kain berwarna merah dan putih untuk seluruh peserta. Muncul senyum manis Citra menatap kain berwarna merah dan putih itu. Oh merah putih benderaku.

#Jangan melupakan jasa-jasa para pahlawan ya, teruskan perjuangan mereka dan turunkan ke anak cucu kita nanti. INDONESIA MERDEKA!!

5 SUKSES YG HARUS DIPERJUANGKAN...

5 Sukses yang Harus Anda Perjuangkan.



a. Sukses Spiritualitas
Kesuksesan ini berkaitan dengan akhirat atau ketaatan Anda terhadap agama yang dipeluk. Misalnya, jika Anda beragama Islam, Anda mesti melaksanakan ibadah wajib seperti sholat 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan membayar zakat.
Ibadah wajib ini juga dilengkapi dengan ibadah sunat seperti menunaikan umrah, shalat tahajud, membaca Al-Quran, dan sebagainya.

b. Sukses Finansial
Kesuksesan finansial berkaitan dengan uang. Memang uang bukan segalanya, namun Anda butuh uang untuk beragam keperluan sehari-hari.
Seperti apa sukses finansial? Umumnya berupa karier yang cemerlang, rumah yang layak, kendaraan pribadi, tabungan masa depan, atau bisnis yang menguntungkan.

c. Sukses Kesehatan
Apalah artinya banyak harta atau punya jabatan tinggi kalau Anda sakit-sakitan. Bisa jadi harta Anda akan habis dipakai berobat. Oleh karena itu, Anda mesti memiliki tubuh yang sehat.
Upaya yang dilakukan bisa berupa olahraga rutin (misalnya lari pagi 3 kali seminggu), makan makanan sehat, istirahat cukup, dan pikiran positif.

d. Sukses Keluarga
Pernah melihat orang kaya atau selebritis yang rumah tangganya berantakan? Anda mungkin tidak ingin seperti mereka. Oleh karena itu, Anda mesti berusaha untuk sukses dalam berkeluarga.
Bentuknya bisa berupa rumah tangga yang harmonis, anak-anak yang sholeh, pasangan yang pengertian, hormat kepada orang tua, dan rukun terhadap saudara.

e. Sukses Sosial
Dalam menjalani hidup ini Anda tidak bisa sendiri, bukan? Ya, Anda butuh orang lain, entah itu teman, rekan kerja, atau tetangga.
Oleh karena itu, sukses sosial yang mesti Anda perjuangkan antara lain aktif di lingkungan rumah, berkerja sama dengan rekan kerja, memiliki banyak teman, bersedekah kepada orang yang tidak mampu, dan menyantuni anak yatim.