“Kalian tahu ini hari apa?” tanyaku heboh, teriakanku menggema di
seluruh lokal. Semua tetap sibuk dengan urusan masing-masing. Tak ada
kicauan burung yang berani mengganggu mereka.
“Hey, ayolah dengarkan,” seruku tetap bersikeras. Gina, sahabat karibku dari kecil menanggapi teriakanku,
“Hari ini hari Rabu, sudahlah tidak perlu pura-pura bodoh. Kau juga tahu,” ujarnya dingin.
“Ah,”
Hari ini, 17 Agustus 2045. Yup, hari ini adalah peringatan hari
Kemerdekaan Indonesia yang ke-100 tahun. Sebagai gadis yang mencintai
negaranya, aku merayakan hari ini dengan perlombaan kecil di rumahku.
Sebagai rasa nasionalisme terhadap Indonesia. Namun, zaman telah berubah
entah mengapa aku tak tahu.
Tak ada ikatan persatuan dan kesatuan yang dilakukan oleh pahlawan
semasa dulu. Tak ada yang ingat. Ayahku yang lahir di tahun 2000, beliau
berkata.
“Saat ayah sekolah dahulu, di sekolah ayah. Pada tanggal 17 Agustus,
kita upacara dan berlomba. Semua senang dan gembira. Ada lomba panjat
pinang, lompat karung, tarik tambang, masukkan paku. Dan lain-lain, jika
kamu mencintai negara kita. Buatlah perayaan kecil, kreatif!” Ah aku
senang ayah berkata begitu, karena di sekolah. Tak ada upacara sama
sekali bahkan pada hari kemerdekaan, hari lahir pancasila, pendidikan
tak ada yang ingat.
“Hmm, Gina seharusnya kau ingat. 17 Agustus, saat pak Soekarno
membacakan teks proklamasi. Dulu kata ayah, di sekolah upacara. Tapi,
kita tidak. Kita harus membangkitkan rasa nasionalisme Gina!” ucapku
kesal. Namun, ucapanku malah membuat Gina naik darah. Ia pergi
meninggalkanku sendiri.
“Huft,” namun, aku masih bersemangat. Perayaan yang kulakukan nanti sore, semoga banyak yang datang.
Kringg…
Guruku telah datang, tak ada ucapan selamat pagi atau sapaan yang menyenangkan. Tegas!
“Buka laptop kalian, ketik yang ada di depan! Lalu pelajari semuanya di
rumah!” serunya. Memang, di tahun 2045 ini teknologi semakin canggih.
Tak ada lagi yang namanya papan tulis atau buku. Maupun pena serta
pensil. Semua sudah kuno, aku bahkan tak pernah melihat yang bernama
papan tulis. Tapi kata ayah papan tulis bisa dihapus. Huh, entahlah.
Guru juga tak pernah menjelaskan sedikitpun. Aku bingung.
Saatnya pulang!!! Sayup-sayup terdengar bunyi dari bibirku. Indonesia
Raya, lagu kebangsaan Indonesia yang sudah lama sekali. Ayah yang
mengajarkan. Walau sekarang tak ada yang namanya bernyanyi atau yang
lainnya aku tetap mengabadikan lagu itu.
Aku mempersiapkan semua yang dibutuhkan saat acara. Lomba tak banyak
hanya makan kerupuk, tarik tambang, dan masukkan paku. Mungkin kekuatan
menarik mereka tak sekuat orang zaman dahulu. Aku tak mengadakan
perlombaan panjat pinang, karena memang pada zaman sekarang jarang yang
dapat memanjat. Satu hal lagi, aku mengibarkan bendera. Bendera
kebangsaan Indonesia, berwarna merah putih polos yang sangat indah jika
dikibarkan. Seni, itu yang kusebut.
Aku dengan mudah mengibarkan bendera itu. Kakakku yang malas akhirnya
dengan berat hati menerima pemaksaanku sebagai MC dalam acara. Wajahnya
malas dan kesal. Aku menarik napas dalam-dalam. Setelah acara dimulai,
aku melihat tabel tamu kedatangan. Hanya 15 orang! Padahal manusia di
kotaku banyak sampai 2 juta. Ada apa ini?
Yang datang sebagian besar sepupuku dan sisanya adalah teman saat aku
masih kecil. Mereka sama sepertiku mencintai Indonesia. Ditengah acara,
aku melihat anak kecil yang kira-kira berusia 5 tahun sedang berusaha
menggapai kerupuk. Aku tersenyum, anak kecil namun mempunyai rasa
nasionalisme yang tinggi. Dengan cepat ia menghabiskan kerupuk yang
berhasil digapainya. Ia memenangkan perlombaan makan kerupuk.
Aku menghampiri anak kecil itu,
“Dek, adek namanya siapa?” tanyaku lemah lembut mendekatinya.
“Citra kak,” jawabnya polos sambil mengelus perutnya. Sepertinya, ia kenyang.
“Oohh, selamat ya dek menang lomba,”
“Iya kak makasih,”
“Kak itu yang warnanya merah putih apa kak?” Citra melempar pertanyaan yang tak membuatku kaget.
“Itu namanya bendera dek, adek tau itu bendera untuk apa?”
“Enggak kak, Citra enggak tau,”
“Bendera itu untuk mengenang jasa pahlawan kita yang dahulu berperang
untuk menyelamatkan Indonesia. Selain itu, juga untuk membangkitkan rasa
nasionalisme terhadap Indonesia,”
“Na.. na.. nass… nasi… nasionalisme itu apa kak?” tanya Citra yang agak kesulitan mengeja kata nasionalisme.
“Nasionalisme adalah rasa cinta kita terhadap tanah air,”
“Oh gitu kak, kakak makasih ya. Karena kakak, Citra tau itu bendera dan
nasionalisme. Oh ya kak, warna merah dan putih itu apa kak?” lagi-lagi
Citra bertanya. Aku tersenyum melihat rasa ingin tahu Citra terhadap
Indonesia.
“Merah artinya berani dan putih artinya suci,”
“Oh jadi Indonesia berani dan suci yeeeeyy,” ia bersorak gembira.
Tibanya pengumuman, aku melihat Citra berdiri di panggung memegang
piala tinggi yang lebih tinggi darinya. Ia menaruh piala itu. Citra
dikalungkan medali yang besar serta mendapat uang 1 juta. Aku
mengucapkan selamat kepada 3 besar juara di masing-masing kategori.
Serta sedikit berpidato tentang Indonesia. Terutama bendera yang masih
kokoh berkibar di halaman rumahku. Aku memberi kain berwarna merah dan
putih untuk seluruh peserta. Muncul senyum manis Citra menatap kain
berwarna merah dan putih itu. Oh merah putih benderaku.
#Jangan melupakan jasa-jasa para pahlawan ya, teruskan perjuangan mereka dan turunkan ke anak cucu kita nanti. INDONESIA MERDEKA!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar